Susahnya Jadi PNS (Pegawai Negeri Sipil)

CPNS (Pegawai Negeri Sipil) PNS (Pegawai Negeri Sipil

Dari hasil blog walking saya menemukan tulisan cuhat yang saya tulis pada saat pindahan hosting dan tidak sempat ke backup, di up load ulang mudah-mudahan curhatnya ada yang denger, atau mungkin hanya sekedar mimpi di siang bolong :)

 

PNS => Professional works, No corruption, Salary not Good

Masuknya aja sewaktu penerimaan dari umum… huh berjubel sampe puluhan ribu orang, sedangkan posisi yg ada hanya ratusan. Penerimaan melalui tenaga kontrak (TKK/Honorer) susahnya juga minta ampun… ada yang harus nunggu sampai belasan tahun baru diangkat, ada yang udah lama tapi keduluan diangkatnya sama yang baru masuk jadi TKK (kok bisa? tanya knapaaa?), ada yang udah lama sekali jadi TKK tapi tidak bisa diangkat karena umurnya sudah melebihi persyaratan. Ada TKK yang udah diangkat tapi masa kerjanya berbeda, ada TKK yang udah Sarjana atau S-2 tapi pengangkatannya tetap SMA mudah2an bukan jadi SMP atau SD, bahkan TK. tenang aja nanti juga ada persamaan (nanti… kapan?… nanti aja diurus yah!…tenang aja...)

Sudah diterima jadi PNS… eh ternyata gajinya kecil, pertama masuk gaji hanya dapat 80%, udah diangkat SK-nya lama turunnya, udah SK turun masa kerjanya kadang berbeda… honornya juga kecil apalagi yang ditempatkan di posisi yang kering… Dapet tempat kerja yang basah (basah sama air comberan yah… atau air..-sensor-) susah juga nyari air bersihnya… belum lagi potongannya, bayar ppn, pph, potongan internal, Mau kerja sama dengan senior (sering nipu orang) eh… mereka pada ngiri, katanya; kok bisa masuk langsung jadi PNS? loh salah kita apa, kita kan ikut ujian dan lulus… akhirnya junior (juga nipu orang) di ospek dulu deh… Kerjasama dengan yang baru masuk, masih lihat kiri kanan takut ketubruk ama senior, akhirnya ikutin arus aja deh katanya , kasian deh loh… ptok… ptoookkk…. eh… kaiiingggg… kaiiiinggg…

Sebagai Abdi Negara dan Abdi Masyarkat, Mau kerja efektif dan efisien…. susah… udah sistem mas…. Dananya kurang, fasilitas kurang, SDM kurang… SDM (Sudah Dungu Malas lagi…) Mau kerja keras, tidak ada reward-nya, Mau nyantai-nyantai aja nga enak juga, Kerja sampai malam, besok harus apel pagi, Ikut apel pagi, lama-lama bosan juga (cuman; apel pagi mulai, laporan-lapor peserta apel pagi siap-lanjutkan-sebelum memulai pekerjaan pagi ini mari kita berdoa- apel pagi selesai-bubarkan… udah aja 2 menit juga enggak…)… nyang penting Absen!!! ingat UU No 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian dan PP No 30 tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil, daripada apel pagi mending apel beureum (merah) deh…

Mau melakukan perubahan, perbaikan, membuat inovasi baru dan berharap itu akan terimplementasikan dalam waktu cepat, eh disebut anak kemarin sore dan pahlawan kesiangan, dibiarin aja… lama2 kesel juga… Ikutan “maen” sama orang2 lama… susah juga, budayanya beda, budaya saling sikut, masing-masing, sembunyi-sembunyi, tidak berbagi, ngiri sama yang maju… weleeehhh… kata pa ogah mah ceape deh…

Jadi anak buah dan punya atasan, sulit nyari atasan yang bisa dijadikan tauladan, adanya atasan yang pelit; keruk atas, keruk kanan, keruk kiri, plusss keruk ke bawah, anak buah juga di keruk tuh… merpeg wee…(mere pagawean), kapan merdunya (mere duit). ada yang pintar bicara tapi cuman ngomong doank, ada juga yg katanya; saudaranya pejabat yang di atas… wah bawaannya feodal banget, segala sesuatu harus bapak, bapak yang ngoordinir, bapak yang ngatur ini bapak yang itu, bapak harus “dipikolot”/dituakan, pokoknya uangnya juga buat bapak, dan jangan lupa kalau kalau manggil harus lengkap "BAPAK HAJI" harus itu!! :), ada juga atasan yang nyari selamat aja… pekerjaannya dieeemmm aja, nga pernah nanya, apalagi koordinasi ttg pekerjaan, yang penting saya tidak mengganggu anda dan anda tidak mengganggu saya… payah deh…, pokonya duduk manis, kantun nawis, acis merekis, wissss dah…. puass… puasss… puassss…

mau memberi contoh, yah itu… anak kemarin sore… pahlawan kesiangan… “saha maneh?”

Mau kerjasama dengan teman2 yang lain untuk melakukan perubahan ke arah perbaikan, eh sulit juga, ada teman yang takutlah… ada yang udah putus asa yang kerjaannya cuman apel pagi, ngopi, trus cawwww…. (bilangnya sih ke lapangan... lapangan badminton deket rumahnya maksudnya), ada yang sibuk nyari setoran, ada yang sibuk berebut air comberan, ada yang sibuk jadi pemborong di luar (termasuk ngeborong pekerjaan di dalam dinasnya juga sih... cuman nga ketahuan aja tuh), ada yg tidur aja karena malamnya kerja nyambi jadi tk ojeg atau jd security, yang paling parah sibuk jadi abdi dalem seumur hidupnya, kerjanya… kerjaaaaaa terus, disuruh-suruh terus…. sampe badan kurus tinggal tulang dan kentut :), kasian deh… no resistant, tidak ada harapan… madesu pokonamah, tapi peluang dia untuk kaya raya sih masih sangat besar, apalagi kalau bisa terus nempel di pantat atau ketiak juragannya, sambil sikut kiri sikut kanan dan jilat kanan, jilat kiri, karena katanya sih kalau di pemerintahan kalau mau jenjang karir bisa cepet itu tidak perlu pintar, kreatif, inovatif, apalagi kritis... yang penting mah bisa menyenangkan atasan, cukup itu... dijamin karir akan secemerlang harta yang diperolehnya.

Yah gitu deh, romantika menjadi PNS, bukannya saya tidak mensyukuri atau tidak senang menjadi seorang PNS, namun bagi saya bersyukur itu bukan hanya sekedar mengucapkan alhamdullillah atau hanya sekedar senang dan gembira kemundian hajatan nasi kuning… tapi wujud rasa bersyukur kita adalah memaksimalkan apa yang telah kita peroleh, seperti kita memperoleh rejeki uang dari Allah, wujud rasa bersyukurnya adalah dengan cara bagaimana kita membelanjakan rejeki tsb, kalau rejekinya di pake jajan nga karuan, itu namanya tidak bersyukur, begitu pula dengan rejeki menjadi PNS, kalau hanya sekedar senang dan hanya berdiam diri saja tanpa ada kontribusi untuk memperbaiki sistem yang ada, (menurut saya ini loh) itu namanya kurang mensyukuri nikmat.

Ok deh, sing sabar (sagala barareuh...) we nya jang… bari terus usaha… mudah2an aya perobahan, perbaikan, memang tidak semua perubahan membawa perbaikan, tapi bagaimana bisa ada perbaikan, kalau tidak ada perubahan… dan bagaimana mau menghasilkan solusi-solusi baru dari masalah-masalah baru, kalau cara-cara lama masih digunakan (itu kata Mario Teguh sih...)

Wallahualam bisshawab.

=========================================================

Sumber Inspirasi tulisan ini muncul dari pengalaman pribadi dan setelah membaca tulisan dari: http://romisatriawahono.net/2006/06/28/pns-tidak-cocok-untuk/

Menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil), bagi sebagian orang Indonesia adalah sebuah dambaan, meskipun bagi sebagian lagi yang lain mungkin keengganan. Menjadi dambaan banyak orang sehingga antrean pengambil formulir pendaftaran CPNS selalu membludak setiap tahun. Orang merelakan apapun yang dia miliki untuk menjadi seorang PNS, baik uang puluhan juta rupiah, harga diri, dsb. Meskipun sudah ada upaya dari pemerintah untuk memperbaiki masalah rekrutmen PNS, baik melalui hukuman dan perbaikan sistem, tapi tetap saja masalah sogok, suap, atau apalah namanya adalah fakta yang terjadi di masyarakat.

Alhamdulillah saya tidak perlu melewati itu semua, karena kebetulan saya menjadi PNS bukan lewat jalur penerimaan biasa, tapi lewat beasiswa sekolah luar negeri dalam program STAID (sebelumnya bernama OFP dan STMDP) yang diinisiasi pak Habibie. Well, meskipun saya tidak pernah bercita-cita menjadi PNS, saya harus ikhlas melaksanakan perjanjian yang dulu saya buat sebelum berangkat ke Jepang. Dan secara dewasa saya harus mengakui bahwa ini adalah jalur jalan kehidupan saya, paling tidak sampai ikatan dinas 2n+1 saya berakhir

Jujur, saat ini saya merasa fatique, penat dan bosan dengan kehidupan saya sebagai PNS. Mohon maaf bagi rekan-rekan saya sesama PNS, sekali lagi saya tidak bermasalah dengan anda semua, saya cinta anda semua dan sedang berdjoeang seperti anda-anda semua Yang saya penatkan adalah behavior, sistem dan birokrasi yang ada di dalam institusi pemerintah. Biasanya yang menentramkan saya adalah sahabat saya yang lagi nongkrong di jerman, yaitu Made Wiryana yang sering mengatakan bahwa, yang paling gampang itu memang kalau kita memilih berdjoeang di luar, bebas dan tidak terikat. Penghargaan yang besar kepada rekan-rekan yang memilih berdjoeang di dalam institusi pemerintah, membuat inovasi serta perbaikan dari dalam.

Nah saya ingin menshare suatu ide, pandangan dan referensi sebelum saudara-saudara saya tercinta di seluruh Indonesia memilih untuk menjadi PNS. Tentu yang saya sampaikan ini masih bersifat subjektif, masih hanya analisa di satu atau dua institusi pemerintah, dan perlu satu langkah diskusi, survey atau penelitian yang komprehensif sebagai upaya objetifikasi ide. Poin-poin yang saya sampaikan di bawah juga masih bisa ditambahi, dikurangi, dihapus atau bahkan diturunkan kalau muncul desakan di sana sini Mudah-mudahan ide ini bisa jadi gambaran sehingga tidak ada lagi orang yang salah jalan menempuh jalan terjal dan mendaki menjadi PNS, padahal itu sebenarnya tidak cocok untuk dirinya.

Jadi menurut saya, sekali lagi “menurut saya”, PNS tidak cocok untuk orang-orang seperti di bawah:

1. Orang yang ingin melakukan perubahan, perbaikan, membuat inovasi baru dan berharap itu akan terimplementasikan dalam waktu cepat. Perubahan, perbaikan berjalan lambat karena sistem (baik dalam konotasi baik maupun buruk ) sudah berjalan sangat lama dan turun temurun. Anda mau nekat? anak kemarin sore dan pahlawan kesiangan adalah gelar abadi anda

2. Orang yang tidak suka melihat uang dan anggaran dipermainkan, diputar-putar dan dipatgulipat. Orang yang memandang bahwa permainan anggaran, permainan perencanaan kegiatan adalah kegiatan yang salah, penuh dosa dan akan mendapatkan balasan setimpal di akherat kelak. Perlu dicatat juga bahwa banyak juga ”PNS lurus” yang tidak menyadari bahwa beberapa fasilitas dan honor yang diterima adalah hasil subsidi silang dari kesemrawutan anggaran dan realisasinya.

3. Orang yang tidak suka sesuatu berjalan tidak sesuai dengan rencana atau anggaran yang jauh-jauh hari telah ditetapkan. Dalam rencana anggaran tertulis beli komputer Rp. 20 juta, ternyata harga sebenarnya hanya Rp. 5 juta, dan akhirnya sisanya dipakai untuk keperluan lain yang di luar rencana (honor, tunjangan, beras atau minyak goreng untuk karyawan).

4. Orang yang tidak tega memalak teman-temannya yang menjadi rekanan bisnis institusinya, dengan meminta kuitansi seharga Rp. 50 juta, padahal nilai pengadaan barang/jasa sebenarnya hanya seharga Rp. 25 juta. Si rekanan bisnis ini karena marginnya kecil, jadi ngemplang pajak, karena memang dia tidak menerima duwit sebesar itu. Perusahaannya bangkrut karena nggak kuat bayar pajak, akhirnya dia buat perusahaan lagi dan ngurus jadi rekanan lagi. Muter-muter terus coi …

5. Anak muda yang cerdas, berwawasan dan bisa mengeluarkan dan merangkumkan ide (pendapat) yang lebih brilian dan strategis daripada eselon diatasnya (eselon 4, 3, 2, 1) atau bahkan seorang menteri. Si anak muda ini ketika bertemu dengan bos yang tidak tepat akan disebut bahwa idenya terlalu strategis dan kurang tepat dengan golongannya yang rendah dan cocok untuk permasalahan teknis

6. Orang yang tidak suka dirinya dan hasil kerjanya dinilai hanya dari absensi. Atau lebih lagi bagi orang yang tidak bisa kerja kalau sebelum kerja harus njeglok mesin absensi Apa yang anda perbuat, membuat proposal setebal kamus oxford, kerja lembur sampai subuh, membuat kerjasama dengan institusi atau organisasi di luar negeri, atau mengharumkan nama institusi karena anda berprestasi di luar, semua tidak akan dipandang kalau absensi anda jeblog. Kalau anda protes, maka anda akan diminta membaca UU No 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian dan PP No 30 tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Kalau perlu bacanya sambil nyungsep di laut saja mas …

7. Orang yang merasa kurang apabila bekerja sehari hanya 4 jam. Karena kemungkinan anda akan datang jam 8 pagi, njeglok absen, sarapan pagi sambil ngobrol sampai jam 10. Istirahat siang jam 12, kembali ke kantor jam 13:15, dan adzan sholat ashar jam 15:15 merupakan bel pulang kantor.

8. Orang yang memiliki jiwa enterpreneur dan selalu melihat segala peluang sebagai peluang yang kemungkinan bisa menjadi bisnis. Ketika jiwa enterpreneur ini diimplementasikan di tempat yang tepat hasilnya akan positif, tetapi apabila diimplementasikan di institusi pemerintah tempat bekerja, bisa jadi sumber korupsi yang maha dahsyat dan mengerikan. Orang ini diharapkan ketika melihat berjubelnya pendaftaran PNS dan mendengar keluhan 4 juta PNS di Indonesia tentang gaji mereka yang rendah selalu berpikir untuk mempunyai perusahaan dan bisa membuka lapangan kerja baru bagi 4 juta orang di Indonesia. Mungkin posisi itu lebih tepat.

Saya yakin bahwa sebagai anak bangsa, baik posisi kita ada di dalam maupun di luar institusi pemerintah, kita ingin dan sama-sama berdjoeang membuat republik kita ini lebih baik, lebih maju, lebih sejahtera dan disegani bangsa-bangsa lain. Seperti yang sudah saya sitir diatas, kadang PNS bukanlah pelaku, tetapi sebenarnya juga menjadi korban. Masih banyak “PNS-PNS lurus” yang siap melakukan perbaikan di negeri ini. Mari kita melakukan perbaikan semampu kita, baik dengan lisan, hati maupun dengan tangan. Dan jangan lupa untuk mensyukuri segala nikmat dan keadaan yang sudah Allah berikan kepada kita.

Wallahualam bisshawab.

 

Add comment


Security code
Refresh

User Rating: / 3
PoorBest 

Sponsor Pengadaan

Purchasing On line

Katalog Penyedia